Bayangan Memudar

[Gulir ke bawah untuk bahasa Indonesia]

Bayangan Memudar (2019) is a video collaboration between Jorgen Doyle, Mikael Johani and Edo Wallad, predominantly shot in an abandoned marketing gallery in Pantai Mutiara, an elite master planned suburb built in the 1990s on reclaimed land on Jakarta’s North Coast. It  features an architectural model by the famous Indonesian model makers, P.T. Hongky’s Miniatur Jaya. The development it represents largely realised, the model has lost its reason to exist, and has languished into disrepair. Where it once pointed boldly to the future, making a claim about what Jakarta should look like, the model is now more of a hymn to temporality. A dead dragonfly rests beside a sporting club, the corpse of an emerald green beetle crushes a municipal hedge, and a dead little bird, its feet clinched, is a grisly discovery in an urban wasteland bearing the title ‘Future Development’. Shards of glass the size of houses litter suburban streets, and dust and debris clog the harbour as though a tsunami has just departed. A poem recited languidly over the top borrows lines from Indonesian poets writing on Jakarta through the ages. The stilted rhythm of the poem evokes the repetitiveness of Jakarta’s development cycles, and the sense of history repeating that the city often provokes. Throughout Jakarta’s history, there has been a persistent clash between dream and reality.

This work was shown at the Jakarta History Museum as part of the Exhibition, -2m, Voices From (Below) The Sea in May-June 2019

———–

Karya hasil kolaborasi dari Jorgen Doyle, Mikael Johani and Edo Wallad

Bayangan Memudar disyuting di bekas kantor pemasaran di Pantai Mutiara, Jakarta. Ada pajangan maket yang dibuat oleh pembuat maket Indonesia yang terkenal, P.T. Hongky’s Miniatur Jaya. Karena pembangunan yang tercitrakan pada maket sebagian besar sudah selesai, maket-maket itupun kehilangan alasan untuk ada hingga akhirnya merana dan rusak. Walau dulu pernah merancang masa depan dengan berani, mengajukan klaim tentang seperti apa seharusnya Jakarta, maketnya kini lebih seperti hymne atas kefanaan. Seekor capung mati terbaring di sebelah klub olahraga, bangkai seekor kumbang hijau zamrud menghancurkan pembendung kota, dan burung kecil mati dengan kaki terkepal, adalah penemuan mengerikan di tanah kosong yang bertuliskan ‘Future Development’. Pecahan kaca sebesar rumah menyampahi jalanan, debu dan puing-puing menyumbat dermaga seolah-olah tsunami baru saja surut. Sebuah sajak dibacakan dengan lesu di atasnya meminjam kalimat-kalimat dari penyair Indonesia yang menulis tentang Jakarta sepanjang masa. Irama sajak yang kaku memunculkan siklus pengembangan Jakarta, dan pengulangan sejarah yang seringkali dipicu kotanya sendiri. Sepanjang sejarah, di Jakarta telah terjadi bentrokan berkepanjangan antara mimpi dan kenyataan.

Karya ini pernah dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta sebagai bagian Pameran ‘-2m, Suara Suara Dari (Bawah) Laut pada bulan Mei-Juni tahun 2019

———-

text and bibliography of the sources of each line of the films’ poem (in Indonesian) | teks dan biliografi referensi garis garis puisi